BANDAR LAMPUNG – Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatatkan tren positif dalam pengendalian kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal tahun 2026. Hingga Maret, tercatat sebanyak 33 kasus tanpa adanya laporan kematian. Meski angka ini tergolong rendah, pemerintah kota memberikan atensi khusus pada luasnya persebaran geografis wilayah endemis.
Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar menekan jumlah pasien, melainkan mengubah status kewilayahan yang masih didominasi zona merah DBD.
Dominasi Wilayah Endemis
Berdasarkan data kewilayahan terbaru, dari total 126 kelurahan di Bandar Lampung, potret risiko menunjukkan:
Endemis: 68 Kelurahan (Lebih dari 50%).
Sporadis: 55 Kelurahan.
Bebas Kasus: 3 Kelurahan (Bertahan dalam 3 tahun terakhir).
"Dominasi wilayah endemis ini menjadi alarm bahwa potensi lonjakan kasus tetap terbuka jika intervensi tidak dilakukan secara merata. Fokus kami sekarang adalah konsistensi pengendalian di tingkat komunitas," ujar Muhtadi, Minggu (29/3/2026).
Replikasi Model "Tiga Kelurahan Sehat"
Dinas Kesehatan kini tengah mengkaji pola pencegahan di tiga kelurahan yang berhasil mempertahankan status bebas kasus. Praktik baik dari wilayah tersebut rencananya akan direplikasi ke kelurahan lain sebagai model standar pencegahan jangka panjang, bukan sekadar respons saat kasus meningkat.
Strategi utama tetap bertumpu pada gerakan 3M Plus (menguras, menutup, mengubur) yang diperkuat dengan:
Pengerahan Kader: Ribuan kader kesehatan dan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dikerahkan hingga tingkat rumah tangga.
Intervensi Abatisasi: Pemberian abate secara masif pada titik-titik rawan genangan air.
Edukasi Perilaku: Mendorong perubahan perilaku kolektif masyarakat agar status wilayah dapat bergeser dari endemis menjadi sporadis.
Partisipasi Masyarakat Sebagai Kunci
Muhtadi menegaskan bahwa efektivitas seluruh strategi pemerintah sangat bergantung pada partisipasi aktif warga. Tanpa kesadaran mandiri untuk menjaga kebersihan lingkungan, wilayah endemis berisiko tetap stagnan dalam siklus tahunan DBD.
"Rendahnya angka kasus saat ini adalah modal awal, namun target sesungguhnya adalah menciptakan lanskap kesehatan yang lebih resilien. Kita ingin mengubah peta risiko ini menjadi hijau secara berkelanjutan," pungkasnya.